
MALANG — Adiba (20), mahasiswi asal Malang, harus rebutan slot booking demi bisa main di salah satu lapangan padel di kawasan Malang, padahal tarif sewa per jam bisa tembus ratusan ribu rupiah. Bukan cuma Adiba, ribuan anak muda lain di hampir semua kota besar di Indonesia juga rela keluar uang lebih demi main bola di balik dinding kaca ini. Beberapa olahraga mulai ditinggalkan, padel justru jadi olahraga yang paling diincar Gen Z. Apa sih yang bikin olahraga asal Meksiko ini begitu menarik?
Sebenarnya padel bukan olahraga baru. Padel diciptakan di Meksiko pada 1969, padel awalnya modifikasi lapangan tenis yang dibuat lebih kecil dan dikelilingi dinding kaca. Tapi beberapa tahun terakhir olahraga ini trending di Indonesia. Berdasarkan Indonesia Padel Report 2025 dari Core & Court, jumlah lapangan padel di Tanah Air melonjak dari hanya 15 unit pada 2021 menjadi 947 unit pada 2025. Jumlah klub padel pun melesat dari 3 menjadi 293 klub dalam periode yang sama, dengan lebih dari 20 ribu pemain aktif tercatat di seluruh negeri. Tren ini bahkan diprediksi terus berkembang, dengan jumlah lapangan diperkirakan tembus lebih dari 2.500 unit pada 2026. Indonesia pun resmi jadi anggota Federasi Padel Internasional (FIP) sejak Mei 2024, sekaligus anggota ke-74 KONI Pusat lewat Pengurus Besar Padel Indonesia (PBPI), tanda bahwa olahraga ini nggak lagi sekadar tren sesaat di kalangan anak muda.
Bukan Cuma Soal Tanding, Tapi Soal Nongkrong
Alasan pertama yang paling sering disebut, padel itu olahraga sosial. Beda dengan tenis yang bisa dimainkan satu lawan satu, padel hampir selalu dimainkan berempat dalam format ganda. Lapangan yang lebih kecil bikin pemain saling berdekatan, gampang ngobrol, bahkan ketawa bareng di tengah permainan. Buat Gen Z yang mendefinisikan olahraga bukan cuma soal keringat tapi juga soal “social life”, pilihan ini pas banget. Banyak yang datang ke lapangan bukan cuma untuk main, tapi juga buat nongkrong, kenalan sama orang baru, sampai sekadar healing bareng circle terdekat.
Gampang dipelajari, Cepat Ketagihan
Gen Z dikenal sebagai generasi yang suka serba instan, dan padel menjawab kebutuhan itu. Raket yang ringan, lapangan yang lebih kecil, dan dinding kaca yang bikin bola tetap “hidup” saat memantul membuat pemain baru bisa langsung menikmati permainan tanpa harus jago dulu. Adiba (20), mahasiswi asal Malang, mengaku awalnya cuma penasaran karena keseringan muncul di FYP TikTok. Begitu coba sekali, ia langsung ketagihan dan rutin booking lapangan tiap minggu.
Estetik dan Gampang Jadi Konten
Desain lapangan padel yang serba kaca, modern, dan kadang dipadu pencahayaan yang terang membuatnya jadi spot yang potensial banget buat konten. Outfit olahraga, gestur smash, sampai suasana lapangan jadi bahan unggahan yang gampang nyangkut di FYP. Buat generasi yang besar di dunia visual, main olahraga sekaligus dapat konten adalah kombinasi yang sulit ditolak. Tren ini membuat padel masuk kategori “sportainment”, perpaduan olahraga dan hiburan yang juga menarik minat brand fashion hingga minuman sehat untuk berkolaborasi dengan komunitas padel.
Ruang Healing di Tengah Tekanan Hidup
Di balik sisi serunya, padel juga punya fungsi yang lebih dalam buat sebagian Gen Z. Tekanan kerja, media sosial, dan rutinitas yang padat membuat banyak anak muda butuh pelarian sejenak tanpa harus ambil cuti panjang. Aktivitas fisik yang dipadu interaksi sosial di lapangan dipercaya membantu melepas stres sekaligus menjaga kesehatan mental, mirip fungsi yoga atau meditasi bagi generasi sebelumnya.
Harga sewa lapangan yang masih relatif mahal membuat sebagian orang menyebutnya olahraga “kelas atas”, dan infrastrukturnya pun masih terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali, sementara kota-kota lain belum punya akses sebanyak itu. Pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengingatkan bahwa bisnis padel di Indonesia masih berada di fase awal dan perlu belajar dari Swedia, yang pernah mengalami booming serupa sebelum akhirnya banyak klub tutup karena pasar terlalu jenuh dan jumlah lapangan tumbuh lebih cepat dibanding jumlah pemain. Terlepas dari segala tantangan itu, padel berhasil mengubah cara Gen Z memandang olahraga. Bukan lagi soal target kalori atau angka di timbangan, tapi soal koneksi, konten, dan momen yang bisa dinikmati bareng teman. Apakah tren ini akan bertahan lama seperti futsal dan bulu tangkis, atau cuma euforia sesaat ala tren media sosial lainnya, waktu yang akan menjawab. Buat sekarang, satu yang perlu kalian tau kalau bingung mau diajak olahraga apa sama temen, coba deh booking satu slot padel siapa tahu kalian juga ikut ketagihan.











