
Gianyar – Bayangin, tumpukan kertas bekas yang biasanya cuma jadi sampah, di tangan kreatif Dalbo limbah kertas itu berubah menjadi karya seni yang menghiasi ruang galeri. Itulah yang dilakukan Suarimbawa Dalbo lewat pameran tunggalnya di Lanö Contemporary Art, Ubud, Gianyar. Karyanya yang diberi judul “Maping” ini tidak hanya hadir sebagai kreasi seni yang unik, tetapi juga merepresentasikan perjalanan panjang dalam mengubah tumpukan bacaan bekas menjadi sarana kritik terhadap berbagai fenomena sosial.
Ketika Sampah Kertas Disulap Jadi Karya Seni
Begitu masuk ke galeri, pengunjung akan disambut dengan tumpukan balok sekilas mirip sampah kertas yang dimampatkan. Bentuknya menyerupai dinding tembok yang runtuh, atau mungkin belum selesai dibangun. Tapi jangan salah, di balik tampilan yang terkesan berantakan itu, ada proses panjang dan penuh makna.
Karya Dalbo ini lahir dari ketertarikannya dengan film Pesta Babi. Bukan cat atau kanvas yang Dalbo pilih, melainkan kertas bekas yang dipadatkan menjadi inti dari pameran seni Maping yang ia hadirkan di Bali.
Dalam wawancaranya dengan detikBali, Dalbo mengatakan. “Karya saya ini judulnya Maping. Terinspirasi dari film Pesta Babi”.
Ada alasan kuat mengapa film itu yang dipilih Dalbo. Baginya, film tersebut bukan sekadar tontonan melainkan potret yang sangat dekat dengan realita Bali hari ini, di mana berbagai kepentingan kerap bertabrakan satu sama lain.
Proses Kreatif yang Nggak Instan
Salah satu hal yang membuat karya ini menarik perhatian yaitu proses pembuatannya yang dilakukan dengan penuh perencanaan dan ketelitian. Dalbo memotong lembaran kertas menggunakan mesin pemotong khusus sampai bentuknya menyerupai serat serat mi. Bahan dasarnya dari kertas bekas seperti koran, majalah, dan buku-buku koleksi pribadinya.
Setelah dipotong, kertas-kertas itu dipadatkan menggunakan alat yang dia buat sendiri. Bukan cuma kertas bekas biasa, dia juga menambahkan gulungan kertas majalah yang kualitasnya lebih bagus untuk dijadikan elemen tambahan.
Bagian paling unik ada di pemanfaatan warna teks dan foto dari kertas majalah tersebut. Dalbo menggunakannya untuk membentuk pola-pola yang bicara soal adat, budaya, dan kultur. Jadi setiap warna dan tekstur yang muncul itu bukan kebetulan, semuanya dirancang dengan detail.
“Terbuat dari kertas bekas. Yang ini saya juga pakai kertas yang kualitasnya lebih bagus, kertas majalah,” jelas Dalbo.
“Saya buatnya manual, dimampatkan pakai kotak,” tambahnya.
Setiap Balok Punya Cerita Sendiri
Orang yang melihat sekilas, mungkin menganggap karya ini seperti instalasi abstrak biasa. Tapi ternyata, tiap balok dalam karya Dalbo merangkum berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari budaya, adat, kultur, sampai program pemerintah daerah dan kehidupan sehari-hari orang Bali.
Susunan balok-balok itu disusun bertumpuk sampai menyatu seperti tembok. Konsepnya menggambarkan cerita tentang alam dan kehidupan di Bali, lengkap dengan berbagai kepentingan yang kadang saling berseberangan.
“Itulah yang terjadi di Bali saat ini. Adat di Bali itu dipetakan dengan tujuan yang berbeda. Kertas-kertas yang dimampatkan itu adalah pengelompokan yang dipetakan. Sebuah komunitas, tradisi, budaya, yang dipetakan,” ungkap Dalbo.
Dari situ juga kelihatan kenapa Dalbo akhirnya tertarik oleh Pesta Babi sebagai sumber inspirasi. “Itulah kenapa awalnya saya terinspirasi dengan film Pesta Babi karena di situ banyak kepentingan,” lanjutnya.
Dua Dekade Bergelut dengan Kertas Bekas
Ternyata, perjalanan Dalbo dengan kertas bekas ini sudah dimulai sejak 2002, jauh sebelum karyanya bisa dipajang di pameran tunggal seperti sekarang. Dalbo mengaku punya hobi ngumpulin buku, koran, majalah, dan berbagai bahan bacaan lain.
Masalahnya, seiring waktu berjalan koleksi bacaan itu makin menumpuk dan studio miliknya di Karangasem tidak lagi cukup untuk menyimpan semuanya. Daripada menyimpan barang yang makin menggunung atau malah dibuang sia-sia, Dalbo memilih jalan lain.
“Saya sudah berkarya sejak 2002. Pernah show tapi bukan solo show,” katanya, mengingat perjalanan panjang sebelum akhirnya punya kesempatan pameran tunggal sendiri.
Menurutnya, semua buku, koran, dan majalah yang pernah dia baca itu menyimpan banyak ilmu dan informasi berharga. Tapi karena ilmu terus berkembang, informasi-informasi itu lambat laun jadi usang. Daripada dibuang, dia merasa ada potensi yang masih bisa dimanfaatkan dari bahan-bahan kertas tersebut.
“Diseni-rupakan. Jadi saya memunculkan bacaan baru dengan kertas yang berlapis-lapis. Ada informasi baru tanpa menghilangkan informasi lama,” ujarnya.
Bukan Cuma Pameran, Tapi Refleksi
Kalau dipikir-pikir, apa yang dilakukan Dalbo ini menarik banget untuk direnungkan, terutama buat generasi sekarang yang hidup di tengah banjir informasi setiap hari. Di saat orang gampang banget skip atau buang informasi yang udah nggak relevan, Dalbo justru ngajak kita buat melihat ulang apa sih yang sebenarnya tersisa dari semua informasi yang udah kita konsumsi?
Karyanya jadi semacam cermin buat isu-isu yang ada di Bali, soal gimana adat dan budaya kadang dipetakan dengan kepentingan yang berbeda-beda oleh masing-masing pihak. Sesuatu yang relate banget buat siapapun yang mengikuti dinamika sosial di Bali belakangan ini. Pameran tunggal Dalbo ini digelar mulai 6 Juni sampai 6 Juli 2026 di Lanö Contemporary Art, Ubud. Total ada 22 karya seni rupa, baik dua dimensi maupun tiga dimensi, yang bisa dilihat langsung di galeri tersebut. Buat yang penasaran gimana rasanya melihat “sampah” berubah jadi pernyataan seni yang penuh makna, ini bisa jadi destinasi pas buat nambah wawasan sambil jalan-jalan ke Ubud.











