
foto : The Jakarta Post
MALANG – TivFriends! Pernahkah kalian mendengar seseorang berkata, “Eh, boti ya?” di
tempat umum? Atau mungkin kalian pernah melihat teman, saudara, atau orang di sekitar
menjadi sasaran candaan serupa?
Di tengah ramainya penggunaan media sosial dan budaya bercanda di kalangan anak
muda, istilah “boti” masih sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Sebagian orang
menganggapnya sebagai candaan biasa, sementara yang lain merasa tidak nyaman ketika
label tersebut terus-menerus ditujukan kepada mereka.
“Ihhh itu sering sih.” Ujar Oki (bukan nama sebenarnya) saat ditanya pernahkah mengalami hal serupa.
Bagi Oki, sebutan tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Meski kini ia mengaku sudah
terbiasa, pengalaman menerima label dari orang lain sempat mempengaruhi rasa
nyamannya saat berada di lingkungan tertentu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebuah kata yang dianggap sederhana ternyata dapat
memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang. Lalu, apakah label seperti “boti”
benar-benar hanya candaan, atau justru menjadi bentuk perendahan yang tanpa sadar telah
dinormalisasi?
Dari Candaan Menjadi Kebiasaan
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah “boti” sering digunakan untuk menyebut laki-laki yang
dianggap memiliki pembawaan lebih feminin dibandingkan standar maskulinitas yang umum
di masyarakat. Kata tersebut kerap muncul dalam percakapan santai, tongkrongan, hingga
media sosial.
Karena terlalu sering digunakan, banyak orang menganggapnya sebagai bagian dari humor
yang wajar. Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa selama tidak ada niat buruk, maka
ucapan tersebut tidak akan menimbulkan masalah.
Namun, bagi sebagian orang yang menerimanya secara berulang, label tersebut dapat
menjadi pengalaman yang membekas.
Oki mengaku bahwa ia sempat merasa takut ketika berada di lingkungan yang dipenuhi
orang-orang yang sering melontarkan ejekan kepadanya.
“Jujur aku takut.”
Rasa takut tersebut muncul karena ia khawatir akan kembali menjadi bahan candaan atau
mendapatkan komentar yang mengarah pada dirinya. Pengalaman seperti ini menunjukkan
bahwa sebuah ejekan yang dianggap ringan oleh satu pihak belum tentu diterima dengan
cara yang sama oleh pihak lain.
Lingkungan yang Mendukung Membuat Perbedaan
Meski pernah merasa takut, Oki mengaku bahwa kondisinya mulai berubah ketika ia berada
di lingkungan yang lebih menerima dan tidak menjadikannya sasaran candaan secara
terus-menerus.
“Tapi semenjak SMP sampai kuliah, it’s fine dan aku enggak takut karena baik-baik
lingkungannya.”
Pengalaman tersebut memperlihatkan betapa besar pengaruh lingkungan terhadap
kenyamanan seseorang dalam berinteraksi sosial. Ketika seseorang berada di lingkungan
yang lebih suportif, rasa takut dan kecemasan yang sebelumnya muncul dapat berkurang
secara perlahan.
Kini, Oki mengaku lebih santai menghadapi komentar yang mengarah kepadanya.
“Sekarang aku biasa aja sih. Enjoy.”
Meski demikian, bukan berarti semua orang memiliki pengalaman yang sama. Ada sebagian
orang yang mungkin masih menyimpan rasa tidak nyaman atau terluka akibat ejekan yang
mereka terima selama bertahun-tahun.
Menghakimi Bukan Jawabannya
Di tengah maraknya penggunaan label terhadap lelaki feminin, Oki memiliki pesan
sederhana bagi mereka yang masih gemar melontarkan komentar atau ejekan kepada
orang lain.
“Mungkin jangan di-judge atau dipojokin.”
Menurutnya, seseorang yang dianggap berbeda tidak selalu membutuhkan penghakiman.
Sebaliknya, mereka lebih membutuhkan dukungan dan lingkungan yang mampu membantu
mereka berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
“Bukan berarti ngedukung atau support ya, tapi orang yang seperti aku ini butuh support
lebih dan jalan keluar dari tuntunan orang-orang sekitar aku biar bisa ke jalan yang benar.”
Ia juga menilai bahwa penghakiman yang berlebihan justru tidak menyelesaikan masalah.
“Kalau semakin di-judge itu akan semakin jadi.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan yang mengedepankan empati dan
komunikasi yang baik sering kali lebih efektif dibandingkan ejekan atau perundungan verbal.
Lebih dari Sekadar Sebuah Kata
Bagi sebagian orang, istilah “boti” mungkin hanya terdengar sebagai candaan yang lewat
begitu saja. Namun, pengalaman Oki menunjukkan bahwa sebuah label dapat
meninggalkan kesan yang lebih dalam daripada yang dibayangkan.
Di tengah budaya bercanda yang masih lekat dengan berbagai bentuk pelabelan, penting
untuk memahami bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan perasaan yang berbeda.
Apa yang terdengar lucu bagi satu orang belum tentu terasa menyenangkan bagi orang lain.
Pada akhirnya, mungkin yang perlu dinormalisasi bukanlah kebiasaan menghakimi atau
memberi label, melainkan kemampuan untuk memahami dan menghargai sesama. Sebab,
kata-kata yang dianggap sepele hari ini bisa menjadi sesuatu yang terus diingat oleh orang
lain di kemudian hari.








