Image

Ketika Jingle Iklan Lebih Viral daripada Produknya

3–5 menit
Sumber Foto: Instagram/Obh.combi

Tivfriends, kalian kalau buka sosmed isinya “OBH Combi Sachet…” terus ga sih?

Entah sedang membuka TikTok, Instagram Reels, atau sekadar mendengar teman bersenandung, potongan lirik itu belakangan terasa sulit dihindari. Awalnya, lagu tersebut hadir sebagai jingle iklan obat batuk. Namun, tanpa diduga, jingle itu justru menjelma menjadi salah satu sound yang paling sering digunakan di media sosial.

Fenomena ini menarik perhatian karena yang viral bukan hanya produknya, melainkan lagunya. Banyak orang menghafal lirik, mengikuti iramanya, bahkan menggunakan sound tersebut dalam berbagai jenis konten yang sama sekali tidak berkaitan dengan obat batuk. Dari video keseharian, komedi, hingga momen bersama teman, jingle itu hadir di mana-mana.

Di balik viralnya lagu tersebut, ada perubahan menarik dalam cara sebuah brand berkomunikasi dengan audiens. Iklan tidak lagi sekadar hadir untuk menawarkan produk, tetapi mulai dirancang agar menjadi bagian dari budaya digital.

Jingle yang Tak Lagi Sekadar Iklan

Jika mengingat kembali era televisi, jingle iklan biasanya hanya terdengar ketika sebuah produk muncul di layar. Setelah iklan selesai, lagu itu pun ikut menghilang.

Kini, kondisinya berbeda. Di era media sosial, sebuah jingle memiliki kesempatan untuk “hidup” lebih lama. Lagu yang awalnya dibuat sebagai materi promosi dapat berkembang menjadi sound yang digunakan jutaan orang dalam berbagai konten.

Hal inilah yang terjadi pada jingle “OBH Combi Sachet”. Lagu tersebut tidak lagi terbatas pada ruang iklan, tetapi berpindah ke FYP, Reels, hingga Shorts. Bahkan, banyak orang mengenal melodinya sebelum benar-benar mengetahui isi iklannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran saat ini tidak lagi hanya mengejar perhatian, tetapi juga partisipasi. Sebuah lagu dianggap berhasil ketika orang ingin mendengarnya kembali, menggunakannya, dan membagikannya secara sukarela.

Kenapa Lagunya Sulit Hilang dari Kepala?

Salah satu alasan jingle mudah viral adalah karena memiliki melodi yang sederhana, ritme yang cepat, dan lirik yang mudah diingat. Dalam dunia psikologi, kondisi ketika seseorang terus mengingat potongan lagu secara berulang dikenal sebagai earworm.

Fenomena ini bukan sesuatu yang baru. Namun, media sosial membuat efeknya menjadi jauh lebih kuat. Ketika sebuah lagu digunakan berulang kali oleh banyak kreator, pengguna akan terus mendengarnya dalam waktu singkat. Akibatnya, otak menjadi lebih mudah mengingat bahkan tanpa sengaja ikut menyanyikannya.

Temuan NielsenIQ juga menunjukkan bahwa audio memiliki kemampuan yang kuat dalam membangun ingatan terhadap sebuah merek. Melalui riset berbasis neurosains, NielsenIQ menemukan bahwa unsur suara seperti musik, jingle, dan identitas audio mampu mengaktifkan memori serta membangun hubungan emosional dengan pendengar. Bahkan, isyarat audio yang sudah dikenal dapat menghasilkan tingkat resonansi merek yang sebanding dengan iklan televisi, meskipun tanpa dukungan visual.

Dengan kata lain, ketika seseorang merasa jingle “OBH Combi Sachet” terus terngiang di kepala, hal tersebut bukan semata-mata karena lagunya sedang viral. Ada strategi audio branding yang memang dirancang agar sebuah merek lebih mudah diingat melalui suara. Di era media sosial, strategi ini menjadi semakin efektif karena algoritma terus mempertemukan pengguna dengan sound yang sama berulang kali.

Ketika Warganet Ikut Menjadi “Tim Marketing”

Berbeda dengan iklan konvensional yang hanya mengandalkan tayangan dari perusahaan, media sosial memberi ruang bagi pengguna untuk ikut menyebarkan sebuah kampanye.

Setiap kali seseorang menggunakan sound yang sedang tren, mereka secara tidak langsung membantu memperluas jangkauan lagu tersebut. Menariknya, sebagian besar melakukannya bukan karena diminta oleh brand, melainkan karena lagu itu dianggap lucu, unik, atau cocok dengan konten yang dibuat.

Inilah yang membuat batas antara iklan dan hiburan semakin tipis. Sebuah promosi tidak lagi terasa seperti promosi ketika dikemas dalam bentuk yang menghibur.

Strategi Baru di Era FYP

Fenomena viralnya jingle “OBH Combi Sachet” memperlihatkan perubahan besar dalam dunia periklanan. Jika dahulu keberhasilan iklan diukur dari seberapa sering tayang di televisi, kini ukurannya bergeser menjadi seberapa sering sebuah lagu digunakan ulang oleh pengguna media sosial.

Brand tidak lagi hanya berlomba membuat slogan yang mudah diingat, tetapi juga menciptakan lagu yang mampu masuk ke percakapan digital. Ketika sebuah sound berhasil menjadi tren, promosi pun berjalan secara alami melalui kreativitas para pengguna.

Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa audiens saat ini tidak ingin sekadar melihat iklan. Mereka ingin berinteraksi, membuat ulang, dan menjadi bagian dari tren yang sedang berkembang.

Lebih dari Sekadar Lagu Viral

Cepat atau lambat, akan selalu ada lagu baru yang mengisi FYP dan menggantikan tren sebelumnya. Namun, viralnya jingle “OBH Combi Sachet” menjadi pengingat bahwa cara sebuah brand berkomunikasi telah banyak berubah.

Di era media sosial, iklan yang paling berhasil bukan lagi yang paling sering muncul, tapi yang mampu membuat orang berhenti sejenak, ikut bernyanyi, lalu tanpa sadar menyebarkannya kepada jutaan pengguna lain.

Mungkin itulah wajah baru dunia periklanan saat ini. Ketika sebuah jingle berhasil menjadi bagian dari budaya digital, orang tidak lagi merasa sedang mendengarkan iklan. Mereka hanya merasa sedang menikmati sebuah lagu yang kebetulan berasal dari sebuah brand.

Related Posts

HYROX dan FOMO Olahraga, Masih Demi Sehat atau Sekedar Ikut Tren?

Tivfriends! Belakangan ini, linimasa media sosial dipenuhi unggahan tentang HYROX. Mulai dari video latihan, momen melintasi garis finis,…

ByByAdibah Aritya Jul 12, 2026

Beauty Privilege Ketika Penampilan Lebih Didengar daripada Kemampuan

Hai Tivfriends! – Kamu pernah nggak, memperhatikan dua orang dengan kemampuan yang sama persis, tapi salah satunya jauh…

ByByshinta rahayu Jul 12, 2026

Di Balik Tren Self Reward, Ada Risiko Impulsive Buying

Hai Tivfriends! – Habis gajian atau selesai deadline, checkout keranjang online rasanya udah kayak ritual wajib. “Kan capek…

ByByshinta rahayu Jul 12, 2026

Less Screen More Life, Digital Wellness Makin Digemari Gen Z

Hai Tivfriends! – Ayo jujur deh, kapan terakhir kali kamu buka HP cuma sebentar terus pas sadar ternyata…

ByByshinta rahayu Jul 12, 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *