• Home
  • Red Light
  • Di Balik Tren Self Reward, Ada Risiko Impulsive Buying
Image

Di Balik Tren Self Reward, Ada Risiko Impulsive Buying

3–4 menit
sumber: pinterest

Hai Tivfriends! – Habis gajian atau selesai deadline, checkout keranjang online rasanya udah kayak ritual wajib. “Kan capek kerja seminggu, wajar dong self reward.” Kalimat itu mungkin familiar banget buat kamu yang sering memanjakan diri sendiri setelah lelah beraktivitas. Tapi hati hati, di balik niat baik untuk menghargai diri sendiri, ada jebakan yang sering nggak disadari, belanja impulsif atau impulsive buying yang menyamar jadi self reward.

Self Reward, Tren yang Lahir dari Budaya “You Deserve This”

Self reward bukan hal baru, tapi makin populer seiring berkembangnya budaya self love dan self care di media sosial. Konsepnya sederhana memberi apresiasi ke diri sendiri setelah mencapai sesuatu atau melewati hari yang berat. Bentuknya macam macam, mulai dari belanja skincare, staycation akhir pekan, sampai jajan kopi kekinian.

Fenomena ini makin subur karena tekanan hidup anak muda yang makin tinggi deadline kerja, tuntutan akademik, sampai perbandingan sosial di media sosial. Riset dari kalangan mahasiswa di Semarang bahkan menemukan bahwa self reward jadi salah satu cara mahasiswa Gen Z mengatasi tekanan kuliah, meski kerap berujung pada pola belanja yang kurang terencana.

Kapan Self Reward Berubah Jadi Impulsive Buying?

Masalahnya, garis antara self reward yang sehat dan impulsive buying itu tipis banget. Self reward yang sehat biasanya sudah dipikirkan dengan matang ada budget yang disisihkan, ada momen spesifik yang memang pantas dirayakan. Sementara impulsive buying muncul dari dorongan emosional sesaat stres, bosan, atau takut ketinggalan promo alias FOMO.

Riset Populix tahun 2023 terhadap lebih dari seribu responden Indonesia menemukan bahwa lebih dari separuh masyarakat punya kecenderungan membeli barang di luar daftar belanja mereka. Menariknya, salah satu pendorong utamanya justru soal kesempatan memiliki barang yang lama diincar dan keinginan memberi apresiasi untuk diri sendiri atau self reward itu sendiri.

Fenomena serupa juga terlihat di kalangan Gen Z saat momen midnight sale. Sebuah studi terhadap puluhan responden Gen Z menemukan mayoritas dari mereka pernah kalap belanja saat sesi diskon tengah malam, dengan alasan utama diskon besar yang terasa sayang untuk dilewatkan.

E-Commerce dan Algoritma Ikut Membantu Kamu Kalap

Bukan cuma soal kontrol diri, industri e-commerce juga punya andil besar bikin self reward gampang kebablasan. Notifikasi flash sale, countdown timer, sampai rekomendasi produk berbasis algoritma dirancang untuk memancing keputusan beli secara cepat tanpa banyak mikir. Fenomena doom spending yang belakangan ramai dibicarakan pun disebut psikolog sebagai bagian dari pola belanja impulsif yang dipicu stres akibat tekanan ekonomi dan beban pekerjaan.

Live shopping di platform seperti TikTok Shop juga makin memperkuat pola ini. Interaksi real time, promo instan, dan suasana yang serba cepat bikin keputusan belanja jadi lebih emosional ketimbang rasional.

sumber: pinterest

Dampak yang Sering Diremehkan

Kalau dibiarkan, kebiasaan ini bisa berdampak ke dua sisi yaitu, finansial dan psikologis. Secara finansial, belanja impulsif yang terus menerus bisa bikin pengeluaran membengkak, bahkan memicu tumpukan cicilan paylater. Secara psikologis, banyak orang justru merasa bersalah atau menyesal setelah belanja impulsive bukannya lega, malah tambah stres. Siklus ini bisa berulang stres memicu belanja, belanja memicu penyesalan, penyesalan memicu stres baru.

Penelitian juga menunjukkan orang dengan self esteem rendah cenderung lebih rentan menggunakan belanja sebagai kompensasi emosional, sementara mereka yang punya kepercayaan diri lebih stabil cenderung lebih bisa mengontrol pola belanjanya.

Biar Self Reward Tetap Sehat, Coba Ini

Bukan berarti self reward itu salah kok. Yang penting ada kesadaran biar nggak kebablasan. Beberapa cara yang bisa dicoba:

  • Kasih jeda sebelum beli. Tunda checkout minimal 24 jam untuk mikir ulang, apakah ini benar benar kebutuhan atau cuma dorongan sesaat.
  • Siapkan budget khusus. Sisihkan anggaran self reward dari awal biar nggak menggerus dana penting lainnya.
  • Cari alternatif nonkonsumtif. Self reward nggak harus selalu belanja bisa lewat me time, olahraga ringan, atau sekadar tidur cukup.
  • Kenali triggernya. Sadari kapan biasanya kamu paling gampang tergoda belanja, entah saat stres, bosan, atau scroll media sosial larut malam.

Self reward itu penting buat menjaga kesehatan mental di tengah rutinitas yang melelahkan. Tapi ketika jadi alasan pembenaran untuk belanja tanpa rem, itu tandanya kamu perlu berhenti sejenak dan mikir ulang. Jadi, lain kali mau checkout keranjang belanja atas nama self reward, coba tanya ke diri sendiri dulu ini beneran reward, atau cuma pelarian?

Related Posts

Surat Rapat Internal Bocor, Benarkah Ada “Hasil Zoom” yang Gegerkan Publik?

Kutive.id – Jagat media sosial diramaikan oleh beredarnya narasi mengenai dugaan “hasil Zoom” yang disebut-sebut berkaitan dengan pembahasan…

ByByARGA VEMAS AKBARTIAN Jul 12, 2026

Childfree dan Generasi Muda Menata Ulang Makna Keluarga

KUTIVE.ID — Bagi sebagian orang, pernikahan masih dianggap sebagai awal untuk membangun keluarga dengan kehadiran anak. Namun, di…

ByByAdibah Aritya Jul 12, 2026

Kontroversi ARTJOG 2026, Ketika Ruang Seni Dipertanyakan Independensinya

YOGYAKARTA – Sebuah pameran seni biasanya identik dengan karya-karya kreatif yang mengundang decak kagum. Namun, ARTJOG 2026 justru…

ByByAdibah Aritya Jul 12, 2026

Gap Year Mulai Dijadikan Opsi Bagi Anak Muda Indonesia di 2026

Tivfriends! Bayangin baru aja lulus SMA. Teman-temanmu sudah sibuk daftar SNBT, ikut ospek, atau mulai membahas kehidupan kampus.…

ByByAdibah Aritya Jul 12, 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *