
Buka Instagram story pagi pagi, tapi feed penuh sama video temen temen di lapanganberkaca kaca sambil megang raket gede kayak paddle pingpong raksasa. Caption nya pun seragam “Sunday padel sesh!” atau “padel date”. Lapangan padel baru bahkan tiba tibanongol di gedung yang biasa kamu lewatin. Pertanyaannya, kamu ikut main karena beneransuka, atau karena takut dibilang nggak update?
Dari Olahraga Niche, Jadi Simbol Gaya Hidup Urban
Padel sebenarnya bukan olahraga baru, lahir di Meksiko sejak 1969 dan sempat lama jadiolahraga elite di Eropa. Di Indonesia sendiri, padel baru benar benar meledak beberapa tahunterakhir. Data industri mencatat jumlah lapangan padel di Tanah Air melonjak dari hanya 240 unit pada 2024 menjadi 947 unit di 2025 lonjakan sekitar 435% hanya dalam setahun, atausetara penambahan sekitar 3,8 lapangan baru setiap hari. Padahal di 2021, jumlah lapanganpadel di Indonesia cuma belasan, semuanya di Bali.
Jakarta jadi episentrum utamanya. Hingga awal 2026, tercatat ratusan lapangan padel tersebardi ibu kota, dengan Jakarta Selatan sebagai kantong terbanyak. Fenomena ini nggak lepasdari eksposur media sosial makin banyak figur publik, atlet, sampai influencer pameraktivitas main padel, yang bikin olahraga ini makin terasa wajib dicoba biar nggakketinggalan.
FOMO di Balik Raket dan Lapangan Berkaca
Nah, di sinilah letak pertanyaannya. Sejumlah pengamat gaya hidup dan ekonomi perilakumenyebut fenomena padel ini sebagai contoh nyata dorongan Fear of Missing Out (FOMO)rasa cemas ketinggalan tren yang akhirnya mendorong orang mengambil keputusan secaraimpulsif, termasuk rela membayar mahal demi ikut ngetren. Estetika lapangan kaca yang instagramable digabung dengan gaya hidup selebriti disebut jadi pemicu rasa penasaran, yang lama lama berubah jadi tekanan sosial untuk ikut mencoba.
Soal biaya, main padel memang nggak murah. Sewa lapangan per jam bisa mencapai ratusanribu rupiah, belum termasuk raket dan perlengkapan lain. Tapi justru di situ letak dayatariknya bagi sebagian orang harga yang nggak sembarangan bikin padel terasa eksklusif, jadisemacam social currency atau bahan validasi di lingkaran pertemanan. Padel pun disebutsebut bergeser fungsi, dari sekadar olahraga jadi bagian dari konsumsi gaya hidup urban yang menggabungkan olahraga, hiburan, dan sosialisasi sekaligus.
Tapi, Nggak Semua soal Gengsi
Meski begitu, bukan berarti semua orang yang main padel cuma ikut ikutan. Padel memangdikenal sebagai olahraga yang gampang dipelajari pemula, dimainkan berpasangan, dan cocok buat segala usia kombinasi yang bikin orang betah main bareng teman atau keluargasambil tetap aktif bergerak. Menariknya, data dari salah satu laporan industri global menyebut tingkat retensi pemain padel di negara negara dengan pertumbuhan cepat, termasukIndonesia, mencapai 92%. Artinya, dari 100 orang yang coba main padel, 92 orang di antaranya tetap lanjut main bukan cuma coba coba lalu berhenti.
Akademisi olahraga pun menilai padel punya potensi jadi bagian permanen dari lanskapolahraga Indonesia, bukan cuma tren musiman, asal didukung ekosistem yang solid federasiyang kuat, sponsor, dan komunitas yang terus tumbuh secara organic bukan cuma karenadorongan gengsi sesaat.
Cermin buat Kita Semua
Jadi, salah nggak sih ikut tren padel? Jelas nggak salah. Ikut tren itu manusiawi, apalagi kalaumemang bikin senang dan sehat. Yang perlu digarisbawahi cuma satu penting buat sadar, motivasi kita main olahraga apa pun sebaiknya datang dari diri sendiri, bukan semata biarkeliatan kekinian di media sosial. Toh, kalau cuma ikut ikutan tanpa benar benar menikmati, ujung-ujungnya bisa berhenti di tengah jalan begitu tren baru muncul.
Padel emang lagi naik daun, dan nggak ada salahnya kamu ikut mencoba. Tapi sebelum buruburu booking lapangan demi konten, coba tanya dulu ke diri sendiri, main karena beneranmau gerak dan seru seruan, atau cuma karena takut dibilang ketinggalan zaman? Nyata nya, olahraga paling asik itu yang bikin kamu balik lagi bukan karena gengsi, tapi karena benerannagih.














