
Kutive.id – Coba tanya generasi yang sekolah di awal 2010-an pakai batik ke sekolah waktu itu identik dengan kampungan, sementara nenteng tas branded luar negeri jauh lebih dianggap keren. Sekarang coba scroll For You Page kamu, tenun dan batik modern justru jadi outfit flexing yang paling banyak dipuji.
Dari Minder Jadi Bangga, Butuh Satu Dekade
Perubahan ini nggak terjadi dalam semalam. Selama satu dekade terakhir, budaya global memang begitu mudah menyusup ke keseharian anak muda Indonesia, mulai dari gaya berpakaian, musik, makanan, sampai cara berpikir. Banyak yang tumbuh dengan idola dari luar negeri, ngikutin tren fesyen internasional, dan pelan-pelan menjauh dari identitas lokal yang dianggap kurang gaul. Tapi beberapa tahun belakangan, arah anginnya mulai berbalik.
Titik Balik dari Panggung Lokal
Titik baliknya bisa dilihat dari berbagai peristiwa kecil yang perlahan membesar. Di Jambi misalnya, komunitas seni pertunjukan anak muda menghidupkan kembali tradisi ngaji adat, sastra lisan yang berisi hukum adat dan nilai moral masyarakat Kerinci, lewat format pertunjukan modern lengkap dengan tata cahaya dan panggung ala pertunjukan kontemporer. Bukan sekadar nostalgia, tapi jadi semacam laboratorium kreatif buat generasi muda belajar akar budaya mereka sendiri dengan cara yang relate.
Dukungan Negara dan Panggung Dunia
Pemerintah pun ambil bagian lewat program pendanaan besar untuk pemajuan kebudayaan, yang membuka ruang bagi anak muda untuk mengajukan proposal proyek berbasis budaya lokal dari film, musik, sampai riset tradisi lisan daerah. Momentumnya jelas, kalau dulu banyak anak muda berlomba bikin startup teknologi sekarang kesempatan yang sama juga terbuka lebar buat membangun ekosistem budaya yang berdampak sosial dan ekonomi.
Di level yang lebih tinggi budaya bahkan jadi alat diplomasi. Awal Juli 2026 sekelompok pelajar SMA di Jakarta berangkat mengikuti kompetisi folklor dan musik internasional di Paris, membawa tarian dan musik tradisional Indonesia ke panggung dunia. Ini bukan sekadar ajang lomba, tapi juga cara memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia, yang saking beragamnya sampai disebut sebagai kekayaan budaya raksasa, kepada masyarakat global lewat festival, film, dan seni pertunjukan.
Pencarian Identitas di Dunia yang Makin Seragam
Kalau ditelusuri, kebangkitan ini juga sejalan sama pencarian identitas generasi muda di tengah dunia yang makin seragam secara visual dan budaya. Ketika semua orang di seluruh dunia bisa dengar lagu yang sama dan pakai baju dari brand yang sama, sesuatu yang benar-benar khas jadi terasa lebih berharga. Dan kebetulan, budaya Nusantara punya kekayaan yang nyaris nggak ada habisnya, dari ratusan suku, bahasa daerah, sampai motif kain yang masing-masing punya cerita sendiri.
Tentu saja, ada juga sisi yang perlu diwaspadai. Ketika sesuatu jadi tren, risiko dangkalnya makin besar: budaya bisa dipakai cuma buat konten tanpa ada yang benar-benar paham maknanya. Tapi terlepas dari itu, perjalanan dari rasa malu ke rasa bangga ini menunjukkan sesuatu yang penting, bahwa identitas itu nggak statis, dan generasi muda hari ini sedang menulis ulang apa artinya jadi anak muda Indonesia: bukan dengan meniru dunia luar, tapi dengan menggali lebih dalam ke akar sendiri.














