
kutive. id – Lapangan yang dulu identik dengan tenis atau basket, sekarang mendadak ramai dengan suara tik tak bola plastik dan raket unik tanpa senar. Yups, itu pickleball olahraga yang belakangan ini bikin feed Instagram dan fyp TikTok Gen Z Indonesia dipenuhi konten main bareng teman atau pacar dengan outfit sporty kekinian. Dari yang tadinya cuma dikenal komunitas kecil, pickleball kini merambah ke Jakarta, Bandung, Surabaya, sampai Bali. Tapi sebenarnya apasih yang bikin olahraga ini begitu digemari?
Apa Itu Pickleball dan Kenapa Tiba Tiba Booming
Buat yang belum familiar, pickleball adalah olahraga raket yang menggabungkan unsur tenis, bulu tangkis, dan tenis meja jadi satu permainan. Uniknya pickleball bukan olahraga baru, ia pertama kali diciptakan pada 1965 di Bainbridge Island, Amerika Serikat, oleh tiga orang sahabat yang awalnya cuma bikin permainan seru untuk anak anak mereka saat liburan musim panas.
Meski usianya sudah lebih dari 50 tahun, pickleball baru meledak di Indonesia dalam setahun terakhir. Salah satu pemicu utamanya adalah konten kreator di media sosial yang memperlihatkan betapa mudahnya olahraga ini dimainkan siapa saja. Momentum ini juga sejalan dengan tren gaya hidup aktif dan olahraga sosial pascapandemi yang makin digemari anak muda urban.
Kenapa Banyak yang Suka Pickleball
Ada beberapa faktor utama kenapa pickleball cepat naik daun di kalangan Gen Z dan milenial:
1. Gampang dipelajari. Berbeda dari tenis yang butuh teknik dan latihan lama, pemula pickleball bisa langsung nyaman bermain hanya dalam belasan menit pertama. Lapangannya juga jauh lebih kecil, sekitar 13,4 x 6,1 meter, hanya seperempat luas lapangan tenis sehingga tidak terlalu menguras tenaga.
2. Aspek sosial yang kuat. Karena dimainkan berpasangan dan jarak antar pemain relatif dekat, pickleball memungkinkan orang tetap mengobrol sambil bermain. Di berbagai negara, olahraga ini bahkan dijuluki the social sport karena efektif jadi ajang bersosialisasi sekaligus membangun relasi baru.
3. Instagramable dan aesthetic. Nuansa venue yang kekinian, outfit sporty local brand, sampai momen main bareng teman bikin pickleball jadi konten yang seru dibagikan di media sosial sekaligus bagian dari personal branding aktif dan sehat ala anak muda urban.
4. Ramah di kantong dan segala usia. Peralatannya relatif ringan dan terjangkau, bisa dibeli lewat marketplace lokal. Gerakannya juga tergolong low impact, jadi ramah untuk berbagai usia dari remaja sampai lansia bisa main bareng dalam satu komunitas.
Fenomena di Balik Tren, Bisnis dan Komunitas Ikut Kecipratan
Ledakan minat terhadap pickleball ternyata bukan cuma soal tren gaya hidup, tapi juga menggerakkan roda bisnis baru. Di Jakarta saja, sudah ada lebih dari selusin venue yang menyediakan lapangan pickleball, mulai dari rooftop eksklusif di kawasan Kemang dengan tarif sekitar Rp150.000/sesi, sampai lapangan indoor di kawasan Ancol dengan tarifsekitar Rp200.000/jam.
Menurut data yang dihimpun dari komunitas pickleball, jumlah pemain olahraga ini di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 8.000 orang pada 2025 angka yang terus bertumbuh seiring banyaknya venue baru bermunculan. Banyak UMKM lokal juga mulai memproduksi raket (paddle), bola, hingga apparel khusus pickleball dengan desain yang dekat sama selera anak muda. Bahkan turnamen turnamen mini yang digelar komunitas turut berdampak kesektor pariwisata dan kuliner sekitar lokasi pertandingan, karena menarik peserta dari luarkota.
Fitness center dan klub olahraga pun ramai menambah fasilitas pickleball untuk menarikanggota baru, sekaligus membuka peluang kerja baru bagi pelatih dan wasit bersertifikat yang jumlahnya di Indonesia masih terbilang langka.
Sisi Lain yang Perlu Diperhatikan
Di balik keseruannya, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan sebelum ikut ikutan main pickleball. Meski tergolong low impact, cedera tetap bisa terjadi kalau pemula asal main tanpa pemanasan yang cukup, terutama pada bagian pergelangan tangan dan lutut. Selain itu, suara pantulan bola plastik yang cukup nyaring juga kerap jadi keluhan di area padat penduduk, sehingga sejumlah venue perlu memperhatikan lokasi dan waktu operasional.
Ada juga yang meragukan apakah pickleball akan bertahan lama sebagai tren, atau hanya jadi olahraga musiman seperti beberapa tren fitness lain yang sempat viral lalu meredup. Namun sejauh ini, pertumbuhan komunitas dan venue baru yang konsisten bermunculan menunjukkan tren ini masih punya momentum untuk terus berkembang.
Kombinasi aturan yang simpel, biaya yang terjangkau, dan nilai sosial yang kuat jadi alasan utama kenapa pickleball begitu cepat merebut hati anak muda Indonesia. Bukan cuma soal olahraga, pickleball sudah bertransformasi jadi gaya hidup sekaligus ruang baru untuk bersosialisasi. Jadi, kapan kamu mau coba turun ke lapangan dan rasain sendiri serunya pickleball?














