
Hai Tivfriends! – Baggy jeans yang kedodoran, jaket oversized yang asal disampirkan, sampai kaos dipadu rok yang tidak peduli siapa gender pemakainya. Kalau belakangan ini kamu ngerasa outfit kaya gitu makin sering muncul di TikTok atau Instagram, itu bukan kebetulan. Namanya Ngortis, dan boy group asal Korea Selatan, Cortis, ada di balik semua ini.
Istilah Ngortis muncul dari kreativitas netizen Indonesia yang menggabungkan nama group Cortis dengan gaya bahasa lokal. Awalnya cuma panggilan santai buat fans Cortis sebelum nama fandom resmi mereka, Coer, diumumkan. Tapi lama lama, maknanya bergeser jadi sebutan untuk gaya berpakaian yang terinspirasi dari kelima member Cortis: James, Juhoon, Martin, Seonghyeon, dan Keonho.
Cortis sendiri baru debut di bawah naungan Big Hit Music pada 18/08/2025, lewat mini album “Color Outside the Lines”. Belum genap setahun, mereka sudah berhasil bikin gelombang tren yang jauh melampaui musik. Titik baliknya ada di video musik Fashion, di mana para member tampil bukan dengan kostum panggung yang gemerlap dan kaku, melainkan streetwear yang terasa personal, berantakan, tapi tetap terukur.
Bukan Sekadar Baju Kebesaran
Gaya Ngortis punya ciri khas yang gampang dikenali layering yang berlapis lapis, celana kargo bervolume besar, sepatu chunky bersol tebal, sampai aksesori kepala seperti beanie atau bucket hat bertekstur bulu. Warnanya cenderung netral putih, abu, hitam, navy, cokelat yang bikin keseluruhan tampilan terasa modern tanpa perlu usaha berlebihan.
Yang bikin tren ini beda dari gaya K pop pada umumnya adalah semangat ketidaksempurnaan yang disengaja. Kemeja yang tidak rapi, tali sepatu beda warna, atau layering yang keliatan berat tapi tetap estetik jadi identitas utamanya. Elemen genderless juga jadi nilai jual, rok yang dipadukan celana panjang, atau warna warna feminin yang dipakai cowok, jadi hal yang dianggap wajar bahkan diapresiasi.
Setiap member Cortis pun punya interpretasi gayanya sendiri. Martin dikenal dengan aura high end grunge nya lewat parka oversized dan ripped denim. Juhoon lebih ke gaya rapi dengan cardigan rajut dan warna pastel. Sementara Keonho paling berani main warna dengan puffer jacket neon dan kacamata warna warni. Keberagaman ini yang bikin Ngortis fleksibel diadaptasi siapa saja, termasuk kalangan hijabers yang menyesuaikannya dengan gaya berbusana mereka.

Dari Trend ke Rak Thrift
Ngortis nggak cuma jadi obrolan di kolom komentar TikTok, tapi berhasil menggerakkan roda ekonomi. Industri thrift merasakan dampaknya, karena gaya ini identik dengan tampilan effortless bersentuhan vintage dan barang preloved jadi salah satu cara termurah untuk mendapat look serupa. Di sisi lain, brand lokal ramai merilis koleksi dengan palet warna lembut dan potongan longgar yang sejalan dengan estetika Cortis, sekaligus jadi kesempatan untuk menaikkan citra produk dalam negeri yang sering dianggap kalah saing dengan merek luar.
Tapi tidak semua dampaknya positif. Fast fashion pun ikut latah memproduksi massal demi mengejar permintaan pasar yang berubah cepat, ujung ujungnya memunculkan kekhawatiran soal limbah tekstil dan pola konsumsi yang makin boros. Sebagian pengamat juga menyoroti risiko tergerusnya identitas fashion lokal kalau anak muda kelewat fokus mengikuti tren luar, sementara kekayaan gaya khas Indonesia seperti batik atau tenun jadi kurang terangkat.
Fenomena Sosial, Bukan Cuma Soal Baju
Dari kacamata sosiologi, cepatnya Ngortis melekat jadi standar di lingkaran pertemanan atau fandom menunjukkan bagaimana gaya berpakaian bisa berubah dari pilihan bebas jadi sesuatu yang terasa wajib diikuti begitu sudah membudaya di suatu kelompok. Fenomena ini juga membuktikan kalau selera fashion Gen Z Indonesia bergeser dari kagum sama boy group yang terkesan jauh dan glamor, ke gaya yang terasa dekat, personal, dan gampang diadaptasi dalam keseharian. Pada akhirnya, Ngortis membuktikan satu hal fashion tidak melulu soal keseragaman atau barang branded. Kadang, keberanian tampil “berantakan” justru yang bikin kamu paling standout.















